Friday, 23 June 2017

JEMBATAN KERKWEG JALAN MENUJU KE GEREJA



JALAN MENUJU KE GEREJA


            Bila Anda hendak bepergian ke Malioboro dari arah utara kota Yogyakarta, pastilah Anda akan melintasi jembatan bersejarah ini. Jembatan Kewek adalah satu-satunya jembatan tertua yang dibangun oleh kolonial Belanda di Yogyakarta sekitar tahun 1800-an, bersamaan dengan pembangunan Kota Baru, stasiun kereta api Tugu dan Lempuyangan. Jembatan Kewek terletak di jalan Abubakar Ali yang melintas di atas sungai Code yang eksotis. Jembatan ini dulunya bernama jembatan Sultanburgs.
            Nama Kewek berasal dari bahasa Belanda Kerkweg yang artinya jalan (Weg) ke gereja (Kerk), karena jalan ini memang menghubungkan ‘Kota Lama’ dengan ‘Kota Baru’ dimana di jalan itu berdiri gereja Katolik Santo Antonius Kota Baru yang megah dan besar itu. Namun karena lidah orang Jawa sangat sulit untuk mengucapkan Kerkweg, akhirnya berubah menjadi Kewek.
Di atas jembatan Kewek tersebut terdapat rel kereta api  penghubung stasiun Tugu dan stasiun Lempuyangan.

FILOSOFI HURUF JAWA



Bentuk huruf Jawa melengkung 


            Melingkar bermakna fleksibilitas atau keluwesan; melengkung ke bawah artinya rendah hati; melengkung ke atas mengajak dinamisasi yang tidak drastis atau ekstrim; lingkaran dan lengkungan bermakna cinta akan harmoni dan keindahan, keseimbangan hidup, dan semangat untuk menyambut esok dengan penuh harapan, dan tetap berpijak pada kearifan.
            Sifat yang tidak terpisah dari huruf Jawa yaitu bila dipangku maka huruf tersebut menjadi mati; artinya jika orang/masyarakat Jawa diberi segala kemudahan, kenikmatan, keindahan, kekayaan, keasyikan atau kesuksesan tanpa perlu bekerja keras (lahir) dan laku prihatin (batin) maka orang/masyarakat Jawa tersebut pasti MATI.

Tuesday, 20 June 2017

MISTERI MALAM 1 SURO



JAMASAN KERETA KRATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

S
uro, the first month in the Javanese calendar, also called Muharram or the birth of Muhammad prophet, has great significance to some Javanese people. For them, the month is sacred and there’re things or types of behavior forbidden to be used, made contact with, or engaged in. During the month, javanese people arranged different cultural rites. One of them is Jamasan Pusaka, a Javanese ritual in which people rinse their sacred items or their heirlooms.
            According to various texts, the word ”Jamasan” is derived from the word “Jamas”. It means to rinse or to bath. The word “Pusaka” includes certain items with process mystical power thus believed to be sacred.
            Javanese people claim that there’s a soul that dwells in a sacred item. Therefore it also has names like a human being. Such items are Yogyakarta Palace’s heirlooms, Kiai Sengkelat, Kiai Nagasasra (a keris dagger), Kiai Guntur Madu (gamelan percussion), Kanjeng Nyai Jimat and Kiai Puspaka Manik (royal carriage).
            To certain people, spiritual enlightenment is very important. This is also the case with javanese people. The Javanese since the Islamic Mataram kingdom era hold their belief deeply rooted into Hinduism and Islam-that to purify one’s soul, one must purify the spirit inside their sacred items. Yogyakarta Palace regularly holds such ritual, jamasan pusaka, to purify spirit and soul. The event is usually held every Tuesday Kliwon or Friday Kliwon during Suro month.
            One of the much anticipated events is rinsing the royal carriage. The ritual is unique. Wearing obligatory Peranakan, Javanese traditional clothes, all people responsible in the events are male. They wear Surjan, a traditional shirt and Blangkon head cover for male. Unlike other Jamasan Pusaka events, the royal carriage rinsing ritual is open for public.
            No wonder the ritual always full of Jamasan enthusiasts who throng Rotowijayan Royal Carriage Museum on that day. A lot of them compete against each other to get Banyu Klemuk, the residual water after being used to rinse the carriage. They collect the water dripping down from the carriage into a bottle, even fuel tanks. They believe that the water has a mystical power that can cure diseases and fertilize farming land. Thus, The royal carriage rinsing procession poses mystical and religious values. Among the enthusiasts are people who come from different places only witness Ngalap Berkah, competition to get the enchanted residual water.
            In every Jamasan pusaka events, there are Sesaji of offerings are meant to provide food for the sacred items. The offering includes Jajanan Pasar (traditional snacks), cone rice and Gudangan (vegetables dishes), Jenang Baro-Baro (assorted porridge), a jar of water with flower petals, a living chicken, an egg, Ingkung Ayam Cemani (streamed chicken whose feathers are all black) and Ayam Kampung (chicken raised not inside cages), incense, Kloso Bongko (pandants mats), and Kembang Setaman ( a set of various flowers). Each of them symbolizes different aspects. The traditional snack symbolizes the current life.  People are reminded to be aware of their surroundings and never let themselves adrift in life and always remember the life hereafter.
            To attain the desirable afterlife , people have to undergo spiritual purification, cleaning the soul using sacred and pleasant smelling items. The oferings include water with flower petals, which symbolizes the purifier, because flowers are almost identical with nice smelling and purity.
            By observing the offerings, human beings are reminded about their spiritual life, their relationship with GOD and with other fellow human beings. The balance that exists between a leader  and his followers is symbolized by kloso bongko. This item represents an expression “have you sat down  with your heart knowing and willingly to work genuinely?” In this case, pelungguh (a leader) must whole-heartedly carry out his duties, to serve GOD and his people.
            Good governance will materialize when people work whole-heartedly and achieve spiritual and material balance. Also, there should be a balance between the people and their leaders.

Friday, 12 May 2017

EDUKASI DIABETES



EDUKASI DIABETES



Diabetes dan Pengelolaannya

            Divonis terkena Diabetes bukan berarti hidup penuh keterbatasan. Anda hanya perlu 5 langkah untuk menjalankan hidup sehat. Optimalkan langkah ke-5 dengan memonitor gula darah secara teratur agar gula darah selalu seimbang.

Apa itu Diabetes?
            Diabetes Melitus (DM) atau orang awam sering menyebutnya dengan penyakit kencing manis, adalah suatu kondisi gangguan metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia).

            Diabetes disebabkan karena tubuh kekurangan insulin atau jumlah insulinnya cukup namun tidak mampu bekerja dengan baik. Fungsi insulin adalah untuk menurunkan kadar gula dalam darah yang bekerja dengan cara:
  1. Merangsang sel-sel tubuh agar dapat menyerap gula
  2. Meningkatkan jumlah gula yang disimpan di dalam hati
  3. Mencegah hati mengeluarkan terlalu banyak gula

Pada diabetisi, gula tidak dapat masuk ke dalam sel-sel tubuh karena insulin kurang atau rusak.

Bagaimana makanan dicerna?
            Tubuh manusia tersusun dari jutaan sel yang membutuhkan energi agar dapat berfungsi dengan baik. Saat kita makan, makanan akan dicerna menjadi glukosa (gula) yang akan diangkut menuju sel untuk diolah menjadi energi. Agar dapat masuk ke dalam sel, gula membutuhkan bantuan insulin. Semakin banyak gula yang memasuki sel, kadar gula dalam darah akan menurun.

Gejala Diabetes:
  1. Mudah haus dan lapar
  2. Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas
  3. Sering kencing
  4. Cepat lelah dan mengantuk

Gejala lain yang mungkin timbul:
  1. Mudah terkena infeksi
  2. Luka sulit sembuh
  3. Sering kesemutan terutama pada kaki
  4. Sering timbul bisul
  5. Penglihatan kabur
  6. Infeksi jamur dan gatal terutama di area sekitar kemaluan

Komplikasi Diabetes
HIPOGLIKEMIA, adalah kondisi kadar gula dalam darah yang terlalu rendah (sekitar ≤ 60 mg/dl). Dapat terjadi bila dosis obat/insulin yang digunakan terlalu tinggi, atau porsi makan terlalu sedikit, atau karena olah raga yang terlalu berat. Gejalanya adalah lapar, lemas, mual, pusing, gemetar, pandangan kabur, keringat dingin, jantung berdetak terlalu kencang/cepat. Bila tidak segera ditangani dapat menyebabkan hilangnya kesadaran.

Komplikasi Kronis:
Gangguan Pembuluh Darah Kecil (Mikrovaskular):
  • Gangguan penglihatan
  • Gangguan fungsi ginjal
  • Gangguan fungsi seksual
  • Gangguan fungsi syaraf

Gangguan Pembuluh Darah Besar (Makrovaskular):
·         Stroke
·         Penyakit Jantung Koroner
·         Penyakit Pembuluh Darah Tepi

Tips Pengelolaan Diabetes:
4 SEHAT 5 TERATUR
1.   Edukasi Diabetes: Rajin mengikuti Edukasi Diabetes, membantu Diabetisi memahami seluk beluk diabetes dan cara-cara pengendaliannya.
2.   Aktivitas Fisik: Lakukan aktivitas fisik 3-4 kali seminggu selama 30 menit untuk memperoleh hasil yang optimal.
3.   Pengaturan Makan: Untuk menjaga gula darah tetap seimbang, Diabetisi dianjurkan untuk mengatur pola makan dengan gizi yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori.
4.   Minum Obat/Insulin: Bila pengaturan pola makan dan aktivitas fisik sesuai anjuran belum juga berhasil, dokter akan memberikan obat yang cocok.
5.   Monitor Gula Darah secara Teratur.

PENTINGNYA MONITORING
            Pemeriksaan gula darah secara mandiri merupakan suatu usaha yang penting dalam pengendalian diabetes. Dengan melakukan secara teratur, Anda dapat makan dan beraktivitas lainnya seperti biasa. Dengan pemeriksaan rutin gula darah, Anda dibantu menikmati hidup layaknya orang lain yang sehat. Namun jangan lupa, catat hasilnya dalam buku catatan gula darah. Data-data tersebut akan sangat berguna sebagai informasi bagi dokter dalam mengambil keputusan medis maupun merubah pola terapi bagi Anda.

KAPAN WAKTU YANG TEPAT MEMERIKSA GULA DARAH?
Waktu Periksa
Target Ideal
Sedang
Buruk
Puasa
80-100 mg/dl
100-125 mg/dl
> 126 mg/dl
2 jam setelah makan
80-144 mg/dl
145-179 mg/dl
> 180 mg/dl
Sumber: Konsensus Perkeni 2006


PURING - AMPUNILAH DOSA HAMBA



PURING - Apuraning Dosa Kawula


            Tanaman yang berdaun indah yang warnanya sangat mencolok dan memukau ini mudah tumbuh di Indonesia maupun negara-negara tropis lainnya, baik dataran rendah maupun dataran tinggi. Puring mudah tumbuh di daerah tropis dan di daerah Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur ini, Puring sering kita jumpai tumbuh di pemakaman.
            Dari tradisi nenek moyang turun temurun, terdapat filosofi yang mendalam mengapa tanaman Puring ini banyak ditanam di kuburan. Makna Puring yang berhasil dilacak adalah senantiasa mohon pengampunan dari Tuhan maupun dari sesama yang masih hidup. Puring berarti Apuraning Dosa Kawula (Ampunilah Dosa Hamba). Oleh karena itulah Puring ditanam di pemakaman supaya yang telah meninggal ataupun keluarga yang ditinggalkan memperoleh pengampunan dari Tuhan dan sesamanya.
            Tradisi Jawa banyak makna yang tersembunyi dalam berbagai kemasan yang unik, jika tidak dirasionalisasi bisa jatuh kedalam pemahaman yang keliru. Sebagai contoh, tradisi nenek moyang ketika menghuni rumah baru, seseorang Jawa biasanya disarankan untuk menanam pohon Andong, Puring, dan Jambe. Selain sebagai tanaman hias, tanaman-tanaman tersebut memiliki nuansa spiritualitas yang luhur dalam menapaki kehidupan di tempat yang baru.
            Pohon Andong ada yang berwarna merah dan ungu. Pohon Andong Merah  artinya Asung Pandonga (senantiasa berdoa). Memuji dan memuja Tuhan, jangan sampai manusia itu melupakan kewajibannya untuk selalu bersyukur atas kehidupan ini. Oleh sebab itulah tanaman Andong ini ditanam di kanan-kiri pintu rumah. Tanaman Andong Ungu artinya jika lupa bersegeralah untuk bangkit kembali mengucapkan syukur, dalam doa, karena melalui Tuhan-lah manusia diperkenankan hidup.
            Jika sudah menghunjukkan doa syukur, karena manusia sering jatuh kedalam kesalahan maupun dosa, segera minta pengampunan dari Tuhan dan sesama yang telah dirugikan. Dengan demikian, manusia yang telah diampuni kesalahan dan dosanya juga ikhlas mengampuni kesalahan sesamanya. Karena itulah makna tanaman Puring ini di tanam sebagai lambang niat untuk meminta ampun dan memaafkan sesamanya.
            Pohon Jambe atau Pinang, artinya manusia Jawa selalu diingatkan bahwa setelah menapaki kehidupan lahir batin yang telah dimaknai sebagai tanaman Andong dan Puring, mendapatkan kasih karunia Tuhan berupa rejeki yang tak ternilai yang dalam bahasa Jawa disebut Beja atau keberuntungan. Beja atau keberuntungan itulah yang digambarkan dengan Jambe yang artinya Beja ing Tembe (beruntung dikemudian hari)
            Di daerah Adipala, Cilacap-Jawa Tengah, terdapat suatu tempat bersemedi di bukit Selok yang bernama Jambe Lima dan Jambe Pitu, yang senantiasa didatangi oleh mantan presiden Soeharto. Di tempat tersebut memang ada pohon yang berjumlah 5 dan 7. Jikalau manusia sudah dapat mengendalikan ke-5 pancainderanya dan di tuju(h)kan untuk kesejahteraan alam, sesama makhluk hidup, menyatu dengan Sang Pencipta Alam Semesta, serta telah mendapatkan pertolongan (PITU-lungan) dari Tuhan, dikemudian hari akan memperoleh kebahagiaan dan kedamaian yang sejati dan abadi.