Showing posts with label SPIRITUALITAS. Show all posts
Showing posts with label SPIRITUALITAS. Show all posts

Sunday, 9 April 2017

STANDAR SEPEDA MOTOR




STANDAR SEPEDA MOTOR

P
engalaman ini terjadi ketika Penulis biasa bepergian menggunakan sepeda motor. Ketika melihat pengendara lain yang standar sepeda motornya masih dalam posisi untuk menyangga kendaraan ketika parkir (posisi berdiri) secara spontan orang lain akan berteriak ”STANDAR!” Maksudnya untuk memperingatkan pengemudi bahwa posisi standar yang sedemikian rupa sangatlah berbahaya bila kendaraan berbelok ke kiri. Kejadian yang demikian itu biasanya berawal dari lupa atau pikiran sedang ‘gagal fokus’ alias tidak konsentrasi. Penulis sendiri pernah mengalami hal yang demikian dan secara  spontan orang lain yang berteriak “STANDAR!”
            Manusia seringkali gagal fokus karena terjebak dalam kekhawatirannya sendiri, dosa-dosa yang sama. Namun tiada henti TUHAN akan setia memperingatkannya sehingga manusia itu tidak mengalami kesengsaraan. TUHAN hadir melalui aneka peristiwa hidup sehari-hari, maksudnya untuk memperingatkan manusia agar jangan terpancing oleh godaan iblis yang selalu mendatangkan kesengsaraan.
Melalui peristiwa hidup itu manusia akan selalu ingat bahwa TUHAN-lah satu-satunya sumber keselamatan. Cinta-Nya selalu memberi kehidupan.
           

Thursday, 16 March 2017

MENGHARGAI PERBEDAAN



MENGHARGAI PERBEDAAN








            Seorang Profesor ilmu Kelautan ingin mengambil break dari kehidupannya sebagai akademisi. Ia memutuskan untuk pergi ke pantai dan meminta seorang nelayan melaut sampai ke horison.
            Dalam seperempat perjalanannya, Profesor tersebut bertanya kepada Nelayan, “Apakah Anda mengenal ilmu Geografi?” Sang Nelayan menjawab, “Ilmu Geografi yang Saya ketahui adalah jika di laut sering terjadi ombak pasang, maka musim hujan akan segera tiba.” Kata Profesor, ”Nelayan BODOH! Tahukah kamu jika kamu tidak mengetahui ilmu Geografi berarti kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu!”
            Seperempat perjalanan berikutnya, Profesor tersebut bertanya apakah Nelayan itu menguasai ilmu Biologi dan Sains? Nelayan menjawab, bahwa ilmu Biologi yang dia kenal hanyalah mengetahui jenis ikan apa saja yang dapat dimakan. Kata Profesor, ”Nelayan BODOH! Tahukah kamu bahwa jika tidak menguasai ilmu Biologi dan Sains berarti kamu sudah kehilangan seperempat kehidupanmu!”
Selanjutnya Profesor tersebut bertanya, ”Apakah kamu juga mempelajari Matematika?” Nelayan menjawab bahwa Matematika yang dia ketahui adalah bagaimana cara menimbang hasil tangkapannya agar dapat menghasilkan keuntungan secukupnya. Lagi-lagi Profesor tersebut mengatakan betapa bodohnya Nelayan karena itu dia sudah kehilangan seperempat lagi kehidupannya.
            Dalam perjalanan berikutnya setelah jauh hampir sampai ke horison, Profesor tersebut bertanya, apa artinya Awan Hitam yang menggantung di langit? Jawab Nelayan: “Topan Badai akan segera datang, dan membuat lautan menjadi sangat berbahaya.” Kemudian Nelayan itu bertanya lagi, ”Apakah Bapak bisa berenang?”
            Ternyata sang Profesor tersebut tidak bisa berenang. Nelayan kemudian berkata, ”Saya boleh kehilangan tiga perempat kehidupan saya dengan tidak mempelajari tiga bidang yang Anda katakan tadi, tetapi Anda akan kehilangan seluruh kehidupan yang Anda miliki.” Nelayan tersebut kemudian meloncat dari perahu dan berenang ke pantai, sedangkan Profesor tersebut mati tenggelam!
            Demikianlah dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan maupun pergaulan sehari-hari. Kadang-kadang kita meremehkan teman, anak buah maupun rekan sekerja. Kalimat “Tahu apa kamu?” mungkin secara tidak sadar sering kita ucapkan ketika kita sedang membahas sebuah permasalahan. Padahal, ada kalanya orang lain lebih mengetahui dan mempunyai kemampuan spesifik yang dapat mengatasi masalah yang timbul. Seorang operator Mesin Offset di percetakan mungkin lebih mengetahui hal-hal yang bersifat teknis daripada atasannya. Intinya, orang yang menggeluti bidangnya sehari-hari bisa dibilang memahami secara detail apa yang dia kerjakan dibandingkan orang luar yang hanya tahu kulitnya saja.
            Ketika muncul orang baru, kita sering mengangap orang baru tersebut tidak mengetahui secara mendalam mengenai bisnis yang kita geluti. Padahal, orang tersebut mungkin saja membawa ide-ide baru yang dapat memberikan terobosan untuk kemajuan perusahaan. Sayangnya, kadang kita lebih sering dibutakan oleh ego, pengalaman, pangkat, jabatan; sehingga mungkin akan menganggap remeh orang lain yang pengalaman, posisi, atau pendidikannya jauh dibawah kita. Keberhasilan kita tergantung pada keberhasilan orang lain juga. Kita semestinya juga menggabungkan kemampuan kita dengan keahlian orang lain juga. Sehingga bila “KAPAL KITA TENGGELAM”, kita masih mungkin akan ditolong oleh orang lain yang kita hargai kemampuannya.
            Tidak seperti Profesor itu yang akhirnya mati tenggelam ketika kapalnya diterpa badai topan dan tidak ada yang menolongnya karena ia tidak menghargai kemampuan Nelayan yang membawanya.
Yang jadi pertanyaan kita sekarang, apakah kita masih suka bertingkah laku seperti Sang Profesor? Bila Ya...seberapa sering?   (sumber inspirasi : majalah Praba, Yogyakarta, 2005/2007?)

CCTV



CCTV




            Instrumen elektronik ini dipergunakan untuk mengawasi segala tindakan atau aktivitas yang cenderung menyimpang dari peraturan atau ketentuan yang berlaku. Gunanya untuk mengendalikan perilaku dan mengamati obyek serta mengarahkan pandangan pengamat untuk mengumpulkan data atau observasi.
            Perilaku manusia tak lepas dari pandangan Tuhan. Bedanya, CCTV adalah pandangan yang terbatas sedangkan mata Tuhan tak terbatas, bahkan data-data ataupun segala tindakan ciptaanNya tak ada yang tersembunyi bagiNya.
            Jika perilaku manusia selalu dalam jangkauan mata Tuhan, hendaklah kita berperilaku yang sesuai dengan peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapanNya.


Monday, 13 March 2017

GUDANG



GUDANG



Sebuah bangunan tua yang berlokasi di utara bandara Adisucipto Yogyakarta ini masih digunakan untuk menyimpan aneka pupuk kimia milik PT. Pupuk Sriwijaya (PUSRI). Bangunan yang luasnya lebih dari setengah hektar ini memiliki beberapa ruangan, sebagian masih bisa dipakai untuk menimbun pupuk, namun sebagian lain kosong dan terkesan kumuh serta lembab.
Konon, masyarakat di sekitar lokasi merasa ngeri dan angker. Dari kabar burung (rumor) yang sering terdengar, mereka sering melihat penampakan hantu perempuan dan suara tangisan di tengah malam di ruangan gudang yang kosong tersebut.
Pada bagian ruangan gudang yang isi, para petugas logistik menempatkan stok pupuk dengan cara disusun rapi dan tidak lembab sehingga kualitas pupuk tidak rusak untuk jangka waktu tertentu.
Hati manusia juga memiliki ruang yang isi dan kosong. Bila ruangan yang isi tersebut mendapatkan perhatian dengan perbuatan yang baik niscaya hati kita memancarkan isi yang baik, sebaliknya bila ruangan hati kita dibiarkan kosong dan tidak dirawat dengan perbuatan baik maka akan cenderung rusak dan angker karena di situ bersarang roh-roh jahat yang menguasai hati manusia. Roh-roh jahat mengajak manusia untuk selalu berbuat kejahatan.









Wednesday, 8 March 2017

TUGU JOGJA



PEREMPATAN TUGU YOGYAKARTA

Bagi masyarakat Yogyakarta, lokasi perempatan Tugu tidaklah asing. Setelah renovasi pada tahun 2013, kini Perempatan Tugu mulai asyik untuk berwisata kuliner maupun ajang Selfie kaum muda dan wisatawan. Setiap hari selepas Maghrib, selalu berkumpul orang-orang muda maupun tua dari barbagai lapisan masyarakat untuk menikmati pemandangan Tugu yang eksotis di malam hari.
Namun akibat perkembangan dunia informasi dan didukung dengan penyediaan akses internet yang sangat pesat akhir-akhir ini, banyak terjadi kecelakaan dan beberapa tindak kejahatan lain sehingga masalah keamanan menjadi prioritas utama para aparat keamanan. Kasus kecelakaan lalu lintas dan perampasan Gadget yang dipakai untuk Selfie sering terjadi. Hal ini karena para pengguna jalan dan pengunjung Tugu sering terlena karena asyiknya menggunakan perangkat informasi tersebut.


Perlu diketahui bahwa perempatan Tugu tersebut menggunakan rambu ke kiri jalan terus untuk mengurangi kemacetan dan kepadatan lalu lintas. Dari arah jalan Jenderal Soedirman (Timur) menuju ke arah jalan Mangkubumi (Margo Utomo) di Selatan, dari jalan Pangeran Diponegoro (Barat) menuju ke arah jalan AM. Sangaji (Utara), dan dari jalan AM. Sangaji (Utara) menuju ke arah jalan Jenderal Soedirman (Timur). Untuk pemantauan arus lalu lintas dan situasi keamanan dipasang kamera CCTV di setiap sudut perempatan.

Rambu-rambu tersebut mirip juga dengan jalan hidup kita. Ada larangan yang bersifat moral, hukum positif, agama dan kultur. Masing-masing memiliki fungsi dan tujuan yang sama yaitu agar hidup manusia semakin relevan dengan kehendak Tuhan. Apabila dilanggar, maka terjadi ketidakharmonisan, kecelakaan dan aneka tindak kejahatan yang sangat merugikan manusia maupun lingkungannya. Sudahkah kita mematuhi rambu-rambu yang diberikan Tuhan dalam hidup kita?